Jumat, 13 September 2013
Datu Museng dan Maipa Dea Pati
Suasana di sekitar istana raja Sumbawa
terlihat ramai dan meriah. Istana megah dengan 99 tiang penyangga dan 40 anak
tangga. Di halaman samping istana telah berkumpul para pemain raga , permainan
paling terkenal di daerah Sumbawa. Ini adalah hari pertunangan Maipa Dea Pati ,
putri raja Sumbawa, dengan saudara sepupunya yang bernama Demung Alas.
Ayolah, Dea Pati! Jangan berkurung diri
terus di kamar. Lebih baik kita menonton pertandingan raga di luar.
Maipa Dea Pati menggeleng. Tidak, Bibi Dayang. Saya merasa sangat lemah dan letih.
Karena itulah, Dea Pati harus pergi menghibur diri. Agar penyakit yang Dea Pati derita itu terobati. Dea Pati harus bergembira, tidak boleh bersedih terus. Sang dayang terus membujuk.
Maipa Dea Pati menggeleng. Tidak, Bibi Dayang. Saya merasa sangat lemah dan letih.
Karena itulah, Dea Pati harus pergi menghibur diri. Agar penyakit yang Dea Pati derita itu terobati. Dea Pati harus bergembira, tidak boleh bersedih terus. Sang dayang terus membujuk.
Bibi Dayang, bagaimana saya tidak
bersedih, padahal ini adalah hari yang saya benci. Saya tidak suka ditunangkan
dengan Demung Alas! Maipa Dea Pati menatap mata dayangnya dengan putus asa.
Tapi bukankah Demung Alas itu tampan? Kenapa Dea Pati tidak menyukainya?
Tapi bukankah Demung Alas itu tampan? Kenapa Dea Pati tidak menyukainya?
Bukan soal tampan, Bibi. Tapi soal hati!
Saya menginginkan seorang suami yang bisa menjadi imam bagi saya. Dan hal itu
tidak saya temukan pada diri Demung Alas. Sudahlah, saya ingin istirahat, Bibi.
Bisa tinggalkan saya sendiri?
Baiklah. Tapi Dea Pati harus janji,
tidak akan bersedih lagi dan harus kembali sembuh seperti semula. Mata dayang
sepuh itu setengah merajuk. Maipa Dea Pati hanya tersenyum. Baginya wanita tua
itu sudah seperti ibunya sendiri. Sebab sejak ibu Maipa Dea Pati meninggal,
dayang itulah yang paling memperhatikannya.
Suasana di luar istana kian meriah.
Beberapa pemain raga terkenal telah menunjukkan kebolehannya di hadapan raja
Sumbawa, Dea Rangang.
Kini giliran pemuda miskin itu, Dea . Permainannya pasti akan jadi bahan tertawaan orang-orang. Demung Alas berbisik di telinga Dea Rangang.
Kini giliran pemuda miskin itu, Dea . Permainannya pasti akan jadi bahan tertawaan orang-orang. Demung Alas berbisik di telinga Dea Rangang.
Dea Rangang mengangguk setuju. Inilah
yang mereka tunggu-tunggu, yaitu saat muka pemuda yang duduk diam di sudut
halaman itu merah padam karena malu.
Hei, Datu Museng! Kini giliranmu! Dea Rangang berseru lantang. Mendengar itu, pemain yang lain mundur ke pinggir, memberi kesempatan pada pemuda dari Lombok itu.
Hei, Datu Museng! Kini giliranmu! Dea Rangang berseru lantang. Mendengar itu, pemain yang lain mundur ke pinggir, memberi kesempatan pada pemuda dari Lombok itu.
Datu Museng mengangguk. Perlahan ia
melangkah ke tengah halaman, lalu memungut raga dengan tenang. Sejenak ia
melirik Demung Alas yang nampak tersenyum sinis ke arahnya. Hatinya merasa,
bahwa ini adalah rencana Demung Alas untuk menjatuhkan namanya.
Bismillahirrahmaaniraahiim Datu Museng
berbisik lirih sebelum memainkan raga di tangannya. Sesaat kemudian terlihat
benda bulat dari anyaman rotan itu melayang setinggi tiga meter. Dan apa yang
kemudian mereka saksikan adalah sebuah pertunjukan yang sangat menakjubkan.
Semua penonton berdecak kagum. Bahkan tak sedikit yang menahan napas saking
takjubnya.
Dea Rangang dan Demung Alas melongo tak
percaya. Apa yang mereka lihat itu adalah sesuatu yang sangat diluar dugaan.
Selama ini, baik Dea Rangang maupun Demung Alas, tak pernah mendengar bahwa
pemuda itu bisa memainkan raga. Apalagi sehebat itu. Raga yang dimainkan Datu
Museng tak sekalipun jatuh menyentuh tanah.
Sebagian penonton mulai bersorak
menyemangati. Kecuali Dea Rangang dan Demung Alas tentunya yang kini hanya bisa
memasang muka kecut. Gagal sudah niat mereka mempermalukan Datu Museng.
Maipa Dea Pati yang sedang berbaring di kamarnya jadi heran mendengar suara riuh di luar kamarnya. Apa yang mereka soraki sampai begitu riuh? Rasa heran itu membuatnya bangun perlahan. Lalu dengan perlahan pula ia mendekati jendela kamar yang berhadapan langsung dengan halaman samping, tempat orang-orang itu sedang berkumpul.
Maipa Dea Pati yang sedang berbaring di kamarnya jadi heran mendengar suara riuh di luar kamarnya. Apa yang mereka soraki sampai begitu riuh? Rasa heran itu membuatnya bangun perlahan. Lalu dengan perlahan pula ia mendekati jendela kamar yang berhadapan langsung dengan halaman samping, tempat orang-orang itu sedang berkumpul.
Matanya menatap terpaku ke tengah
halaman, mengawasi pemuda yang sedang memainkan raga itu. Dan tiba-tiba…
Wuuusss! Raga itu melayang tinggi ke atas, melewati jendela tempat ia berdiri. Pada saat itulah dua pasang mata beradu pandang. Maipa Dea Pati terkesiap. Ia tak percaya akan apa yang dilihatnya. Secepat kilat ia mundur, menyembunyikan diri dari tatapan pemuda itu.
Wuuusss! Raga itu melayang tinggi ke atas, melewati jendela tempat ia berdiri. Pada saat itulah dua pasang mata beradu pandang. Maipa Dea Pati terkesiap. Ia tak percaya akan apa yang dilihatnya. Secepat kilat ia mundur, menyembunyikan diri dari tatapan pemuda itu.
Datu Museng yang juga terkejut segera
mengendalikan diri tepat ketika raga jatuh di hadapannya. Dea Rangang dan
Demung Alas kian tak tenang. Hup! Datu Museng menangkap raga dengan sigap dan
meletakkannya kembali di tanah. Ia telah mengakhiri permainannya dengan
menakjubkan.
***
Maipa Dea Pati menatap cermin di depannya. Cermin yang memantulkan bayangan wajahnya yang cantik jelita meski dalam keadaan sakit. Di kerajaan Sumbawa ini, tak seorangpun yang mampu menyaingi kecantikannya. Tak heran, jika banyak pemuda yang memimpikannya, termasuk para pajabat Belanda ketika itu. Namun Maipa Dea Pati tak pernah menanggapinya.
***
Maipa Dea Pati menatap cermin di depannya. Cermin yang memantulkan bayangan wajahnya yang cantik jelita meski dalam keadaan sakit. Di kerajaan Sumbawa ini, tak seorangpun yang mampu menyaingi kecantikannya. Tak heran, jika banyak pemuda yang memimpikannya, termasuk para pajabat Belanda ketika itu. Namun Maipa Dea Pati tak pernah menanggapinya.
Sampai kemudian Demung Alas menyatakan
keinginannya untuk melamar Maipa Dea Pati. Ayahnya, Dea Rangang, langsung
menyetujui. Sebab Demung Alas masih kerabat kerajaan Sumbawa yang bermukim di
kampung Alas. Barulah Maipa Dea Pati merasa gusar. Hatinya terus gelisah dan
memberontak, hingga akhirnya ia pun jatuh sakit. Baginya Demung Alas bukanlah
sosok yang ia harapkan untuk menjadi suaminya. Bukan!
Sosok itu hanya ada pada satu nama. Datu
Museng! Ya, dialah pemuda yang telah lama merebut hati Maipa Dea Pati. Pemuda
yang pernah tinggal di Madinah cukup lama sebelum akhirnya pulang ke tanah air
dan menjadi guru mengaji di Rinjani. Pada sosok itu pulalah Maipa Dea Pati
pernah berguru. Belajar Islam dan ayat-ayat suci al-Quran.
Dea Rangang bukannya tak tahu
perkembangan itu. Ia pun langsung melarang putrinya pergi ke Rinjani. Maipa Dea
Pati hanya bisa menurut, namun hati yang telah tertambat amatlah sulit untuk
dipisahkan.
Kini rencana pertunangannya dengan
Demung Alas semakin dekat, tapi sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh juga.
Bahkan setelah pertandingan raga itu selesai, sakit Maipa Dea Pati malah
semakin parah.
***
Hari-hari yang menyiksa terus berlalu. Kini sang putri berparas jelita itu sudah tidak mau makan apa-apa. Tubuhnya semakin kurus, dan hanya mampu berbaring di kamarnya.
Dea Rangang mulai panik. Cari dukun terbaik dan panggil ke sini!
Maka para pengawal kerajaan pun menyebar mencari dukun yang sakti untuk mengobati Maipa Dea Pati. Hampir tiap hari didatangkan dukun yang konon terkenal sakti di negeri itu. Sampai tujuh dukun yang mencoba mengobati, namun semuanya gagal.
***
Hari-hari yang menyiksa terus berlalu. Kini sang putri berparas jelita itu sudah tidak mau makan apa-apa. Tubuhnya semakin kurus, dan hanya mampu berbaring di kamarnya.
Dea Rangang mulai panik. Cari dukun terbaik dan panggil ke sini!
Maka para pengawal kerajaan pun menyebar mencari dukun yang sakti untuk mengobati Maipa Dea Pati. Hampir tiap hari didatangkan dukun yang konon terkenal sakti di negeri itu. Sampai tujuh dukun yang mencoba mengobati, namun semuanya gagal.
Saya rasa hanya ada satu orang yang bisa
mengobati penyakit Dea Pati itu, Dea. Seorang pengawal datang menghadap.
Siapa? Cepat katakan! Wajah Dea Rangang penuh harap.
Seorang pemuda bernama Datu Museng yang tinggal di desa Jereweh.
Dea Rangang terperanjat. Apa??? Pemuda tak tahu diri itu?!
Tapi memang hanya dia yang memiliki ilmu pengobatan paling ampuh di negeri ini, Dea. Apa salahnya kita mencoba.
Siapa? Cepat katakan! Wajah Dea Rangang penuh harap.
Seorang pemuda bernama Datu Museng yang tinggal di desa Jereweh.
Dea Rangang terperanjat. Apa??? Pemuda tak tahu diri itu?!
Tapi memang hanya dia yang memiliki ilmu pengobatan paling ampuh di negeri ini, Dea. Apa salahnya kita mencoba.
Dea Rangang terdiam. Ya, apa salahnya
mencoba? Yang penting Maipa sembuh dulu, nanti setelah itu baru pemuda itu yang
diurus. Ia membatin sendiri.
Baiklah. Panggil dia kemari!
***
Bukankah Dea sendiri yang mengatakan bahwa saya tidak pantas masuk ke istana ini? Datu Museng berdiri tegak di hadapan Dea Rangang. Ia tahu betul, Dea Rangang tidak menyukainya hanya karena rasa suka Maipa Dea Pati terhadap dirinya. Sementara ia hanyalah orang biasa, bukan keturunan raja-raja.
Baiklah. Panggil dia kemari!
***
Bukankah Dea sendiri yang mengatakan bahwa saya tidak pantas masuk ke istana ini? Datu Museng berdiri tegak di hadapan Dea Rangang. Ia tahu betul, Dea Rangang tidak menyukainya hanya karena rasa suka Maipa Dea Pati terhadap dirinya. Sementara ia hanyalah orang biasa, bukan keturunan raja-raja.
Sudahlah, Datu. Kita lupakan saja semua
perselisihan itu. Sekarang kami sangat mengharapkan bantuanmu. Terutama
putriku. Dia sudah sangat menderita. Dea Rangang berusaha memembujuk Datu
Museng.
Akhirnya Datu Museng tidak punya pilihan
lain. Ketika langkahnya sampai di pintu kamar Maipa Dea Pati, ia pun berhenti.
Ada rasa tidak patut baginya untuk terus melangkah masuk.
Masuklah, Datu! Dayang sepuh yang
menjaga Maipa Dea Pati memanggil dari balik kain pintu yang terkuak. Datu
Museng menarik napas lega, berarti Maipa Dea Pati tak sendirian di dalam.
Perlahan ia pun melangkah masuk. Hatinya begitu miris melihat keadaan putri
yang baik hati itu. Terlebih ketika Maipa Dea Pati menatapnya dengan sorot
sedih.
Datu, sebelum Datu mengobati saya, saya
ingin menanyakan sesuatu, kata Maipa Dea Pati dengan suara lemah.
Silakan, Dea Pati.
Apakah dalam Islam, seorang gadis tidak berhak untuk menolak lelaki yang akan dinikahkan dengannya?
Datu Museng diam sejenak. Tentu saja ia berhak untuk menolak atau menerima. Tapi tentunya dengan alasan yang benar.
Silakan, Dea Pati.
Apakah dalam Islam, seorang gadis tidak berhak untuk menolak lelaki yang akan dinikahkan dengannya?
Datu Museng diam sejenak. Tentu saja ia berhak untuk menolak atau menerima. Tapi tentunya dengan alasan yang benar.
Apakah penolakan itu salah jika
alasannya adalah karena ia lebih memilih laki-laki lain yang baik agamanya?
tanya Maipa Dea Pati lagi.
Justru itulah alasan yang paling baik. Menghindari laki-laki yang buruk agamanya dan memilih laki-laki yang baik agamanya. Sebab laki-laki adalah imam bagi wanita.
Justru itulah alasan yang paling baik. Menghindari laki-laki yang buruk agamanya dan memilih laki-laki yang baik agamanya. Sebab laki-laki adalah imam bagi wanita.
Jawaban Datu Museng itu membuat paras
Maipa Dea Pati langsung berubah cerah. Inilah yang ia tunggu-tunggu. Sebuah
kepastian yang bisa ia jadikan pegangan dalam melangkah.
Datu memang orang yang arif. Sejak saya belajar mengaji pada Datu di Rinjani dulu, saya sudah yakin bahwa Datu adalah orang yang baik dan pantas menjadi imam saya.
Maksud Dea Pati? Datu Museng mengerutkan alis.
Datu memang orang yang arif. Sejak saya belajar mengaji pada Datu di Rinjani dulu, saya sudah yakin bahwa Datu adalah orang yang baik dan pantas menjadi imam saya.
Maksud Dea Pati? Datu Museng mengerutkan alis.
Datu, bawalah saya keluar dari istana
ini. Tempat ini seperti neraka bagi saya. Saya tidak menyukai Demung Alas. Saya
tidak mau menikah dengannya!
Datu Museng tersentak. Melarikan Maipa Dea Pati? Sungguh, tak pernah terpikirkan hal itu olehnya.
Jika Datu keberatan, saya tidak akan memaksa. Silakan tinggalkan kamar ini. Saya tidak butuh obat lagi! Dan biarlah ini menjadi pertemuan kita yang terakhir! Tandas kalimat Maipa Dea Pati. Datu Museng masih terdiam bisu. Ia tak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar mengejutkan. Permintaan Maipa Dea Pati itu seperti makan buah simalakama baginya.
Datu Museng tersentak. Melarikan Maipa Dea Pati? Sungguh, tak pernah terpikirkan hal itu olehnya.
Jika Datu keberatan, saya tidak akan memaksa. Silakan tinggalkan kamar ini. Saya tidak butuh obat lagi! Dan biarlah ini menjadi pertemuan kita yang terakhir! Tandas kalimat Maipa Dea Pati. Datu Museng masih terdiam bisu. Ia tak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar mengejutkan. Permintaan Maipa Dea Pati itu seperti makan buah simalakama baginya.
Apa lagi yang kau tunggu, Datu?
Pergilah!
Datu Museng tersentak lagi. Ia masih tak mampu berkata apa-apa ketika membalikkan badan dan melangkah tertunduk meninggalkan kamar Maipa Dea Pati.
Maipa, apa yang Maipa katakan? Mengapa Maipa ingin melarikan diri dengan pemuda itu? Dayang sepuh bertanya tak mengerti. Tampak kecemasan di wajah tuanya.
Bibi Dayang, dialah orang yang saya maksudkan. Dialah pemuda yang saya harapkan akan menjadi suami saya. Tapi… dia telah menolak saya. Semuanya telah selesai, desah Maipa Dea Pati sendu. Matanya mulai berlinang. Dayang sepuh membelainya penuh kasih. Hatinya ikut pilu. Ia sangat mengerti perasaan Maipa Dea Pati.
Datu Museng tersentak lagi. Ia masih tak mampu berkata apa-apa ketika membalikkan badan dan melangkah tertunduk meninggalkan kamar Maipa Dea Pati.
Maipa, apa yang Maipa katakan? Mengapa Maipa ingin melarikan diri dengan pemuda itu? Dayang sepuh bertanya tak mengerti. Tampak kecemasan di wajah tuanya.
Bibi Dayang, dialah orang yang saya maksudkan. Dialah pemuda yang saya harapkan akan menjadi suami saya. Tapi… dia telah menolak saya. Semuanya telah selesai, desah Maipa Dea Pati sendu. Matanya mulai berlinang. Dayang sepuh membelainya penuh kasih. Hatinya ikut pilu. Ia sangat mengerti perasaan Maipa Dea Pati.
Tapi dia benar, Dea Pati. Tidak patut
baginya melarikan putri orang, apalagi putri seorang raja seperti Dea Pati ini.
Itu akan membuatnya merasa bersalah pada kerajaan dan mencoreng nama baiknya.
Dea Rangang bisa membunuhnya. Lagi pula, dia tampak sangat alim. Tentulah
permintaan Dea Pati yang berlebihan itu terasa sangat sulit baginya. Sang
dayang berusaha memberi pengertian.
Maipa Dea Pati menatapnya tajam. Kalau begitu… berarti ada cara lain! Dan sesaat kemudian ia pun tersenyum. Kau benar, Bibi. Tidak begitu seharusnya.
Maipa Dea Pati menatapnya tajam. Kalau begitu… berarti ada cara lain! Dan sesaat kemudian ia pun tersenyum. Kau benar, Bibi. Tidak begitu seharusnya.
Berjanjilah pada saya, bahwa Dea Pati
tidak akan punya pikiran seperti itu lagi. Dayang itu membujuknya. Maipa Dea
Pati hanya tersenyum tipis. Segalanya telah terang baginya kini. Ia tahu apa
yang harus dilakukannya.
***
Sejak kedatangan Datu Museng ke istana, keadaan Maipa Dea Pati tampak membaik. Hanya dalam waktu beberapa hari saja, ia sudah kembali terlihat ceria. Dea Rangang pun gembira, ia mengira putrinya telah diberi obat penawar oleh Datu Museng tanpa meminta imbalan apapun. Ya, Datu Museng memang tak mengatakan apapun ketika hendak pulang, hanya mukanya yang terlihat muram saat meninggalkan istana. Ia bahkan tak menyahut ketika salah seorang penjaga istana menawarkan hadiah. Benar-benar manusia yang aneh. Mengapa Maipa bisa jatuh cinta pada pemuda semacam itu? Dea Rangang membatin sendiri.
***
Sejak kedatangan Datu Museng ke istana, keadaan Maipa Dea Pati tampak membaik. Hanya dalam waktu beberapa hari saja, ia sudah kembali terlihat ceria. Dea Rangang pun gembira, ia mengira putrinya telah diberi obat penawar oleh Datu Museng tanpa meminta imbalan apapun. Ya, Datu Museng memang tak mengatakan apapun ketika hendak pulang, hanya mukanya yang terlihat muram saat meninggalkan istana. Ia bahkan tak menyahut ketika salah seorang penjaga istana menawarkan hadiah. Benar-benar manusia yang aneh. Mengapa Maipa bisa jatuh cinta pada pemuda semacam itu? Dea Rangang membatin sendiri.
Dea, saya ingin menyampaikan sesuatu.
Maipa Dea Pati mendekati ayahnya.
Ada apa, Maipa putriku? Dea Rangang tersenyum.
Waktu sakit dulu saya telah berjanji. Jika saya sembuh, saya akan pergi mandi dengan ditemani oleh seluruh dayang istana. Nah, sekarang saya sudah merasa cukup sehat dan ingin segera menunaikan janji itu. Apakah Dea mengijinkan?
Ada apa, Maipa putriku? Dea Rangang tersenyum.
Waktu sakit dulu saya telah berjanji. Jika saya sembuh, saya akan pergi mandi dengan ditemani oleh seluruh dayang istana. Nah, sekarang saya sudah merasa cukup sehat dan ingin segera menunaikan janji itu. Apakah Dea mengijinkan?
O, tentu saja. Semua orang akan senang
melihatmu seperti ini. Ingat, sebentar lagi hari pernikahanmu akan tiba, jadi
kau harus tetap sehat dan cantik. Baiklah, kumpulkan semua dayang untuk
menemanimu malam ini. Dea Rangang terlihat lega.
Maka malam itu dikumpulkanlah semua
dayang istana. Masing-masing mereka menggenggam obor di tangannya untuk
penerangan. Dan memang begitulah kebiasaan Maipa Dea Pati sejak dulu. Ia selalu
mandi pada malam hari.
Tidak lama, tampaklah iring-iringan para
dayang meninggalkan istana. Sinar obor yang berbaris-baris tampak menyusuri
jalan setapak menuju Aik Awak, tempat mandi Maipa Dea Pati. Begitu sampai di
tepi mata air, mereka pun berhenti.
Tolong matikan semua obor itu! Saya
tidak mau ada yang melihat saya mandi. Dan jangan ada yang menyalakannya sebelum
saya suruh! kata Maipa Dea Pati. Maka sesaat kemudian Aik Awak pun gelap
gulita. Semua obor telah padam.
Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah hampir satu jam Maipa Dea Pati mandi berendam, tapi belum juga terdengar perintah untuk menyalakan obor. Dayang sepuh mulai gelisah. Ia pun mencoba memanggil, tapi tak ada sahutan. Firasatnya mulai berkata lain.
Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah hampir satu jam Maipa Dea Pati mandi berendam, tapi belum juga terdengar perintah untuk menyalakan obor. Dayang sepuh mulai gelisah. Ia pun mencoba memanggil, tapi tak ada sahutan. Firasatnya mulai berkata lain.
Nyalakan obornya! Jangan-jangan terjadi
sesuatu dengan Maipa! serunya panik. Para dayang pun kembali menyalakan obor
mereka. Dan alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari Maipa Dea Pati sudah
tidak ada di sana.
Dea Pati nonda ! Dea Pati nonda! Mereka
berseru hampir serentak. Kepanikan pun terjadi.
Sementara di tempat lain, di sebuah jalan kecil menuju desa Jereweh, tampak sosok Maipa Dea Pati berkelebat. Kegelapan tak sanggup mematikan nyalinya, bahkan jarak yang begitu jauh pun tak mampu mematahkan semangatnya untuk terus memacu kuda tunggangannya sekencang mungkin. Orang-orang tentu tidak akan lupa bahwa Maipa Dea Pati adalah seorang penunggang kuda yang sangat mahir.
***
Kerajaan Sumbawa gempar. Demung Alas pun patah arang. Calon istrinya melarikan diri. Dea Rangang tak mampu lagi menahan kemarahannya. Seluruh pengawal istana diperintahkan menyebar ke seluruh wilayah kerajaan. Menyisir setiap garis pantai dan perbukitan. Dea Rangang benar-benar kalap, ia bahkan juga minta bantuan Belanda untuk mencari putrinya.
Sementara di tempat lain, di sebuah jalan kecil menuju desa Jereweh, tampak sosok Maipa Dea Pati berkelebat. Kegelapan tak sanggup mematikan nyalinya, bahkan jarak yang begitu jauh pun tak mampu mematahkan semangatnya untuk terus memacu kuda tunggangannya sekencang mungkin. Orang-orang tentu tidak akan lupa bahwa Maipa Dea Pati adalah seorang penunggang kuda yang sangat mahir.
***
Kerajaan Sumbawa gempar. Demung Alas pun patah arang. Calon istrinya melarikan diri. Dea Rangang tak mampu lagi menahan kemarahannya. Seluruh pengawal istana diperintahkan menyebar ke seluruh wilayah kerajaan. Menyisir setiap garis pantai dan perbukitan. Dea Rangang benar-benar kalap, ia bahkan juga minta bantuan Belanda untuk mencari putrinya.
Imbalannya tak tanggung-tanggung, yaitu
Maipa Dea Pati sendiri! Ia sudah tak peduli pada pertunangan putrinya dengan
Demung Alas. Gubenur Belanda yang memang sudah lama menaruh hati pada putri
kerajaan Sumbawa itu tersenyum senang. Ia pun jadi begitu bersemangat mengutus
pasukannya ke Jereweh, desa pertama yang jadi sasaran pencarian mereka.
Rumah Datu Museng dikepung
beramai-ramai. Seruan agar penghuninya segera menyerahkan diri, tak mendapat
sahutan. Sepi.
Dobrak pintunya!
Maka dalam sekejap, pintu kayu itu pun roboh dihantam seorang anggota pasukan. Namun tetap sepi. Rumah itu kosong melompong. Jauh di ujung Timur pulau tersebut terlihat sebuah kapal bertolak menuju Makassar. Sebuah negeri yang kelak akan mengukir sejarah lain dalam kehidupan Datu Museng dan Maipa Dea Pati.
Dobrak pintunya!
Maka dalam sekejap, pintu kayu itu pun roboh dihantam seorang anggota pasukan. Namun tetap sepi. Rumah itu kosong melompong. Jauh di ujung Timur pulau tersebut terlihat sebuah kapal bertolak menuju Makassar. Sebuah negeri yang kelak akan mengukir sejarah lain dalam kehidupan Datu Museng dan Maipa Dea Pati.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar